Selamat Datang di Website Resmi Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
HotSpot
Menu Utama
Home
Visi Misi
Latar Belakang
Wilayah Kerja
Struktur Organisasi
Sumber Daya Manusia
Sarana dan Prasarana
Hubungi Kami
Galleri
Organisasi Kelembagaan
Struktur Organisasi
Penelitian
Program LitBang dan UKP
Penerapan dan Pengakajian
Wana Riset
Publikasi
Expose Penelitian
Advis
Artikel dan Berita
Kumpulan Artikel-Berita
Login Form





Lost Password?
Syndicate
MENGENAL MAMBRUK, IKON KOTA MANOKWARI
Keanekaragaman jenis burung di Papua Yang merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki sekitar 649 jenis dengan tingkat endemis 52% (Sujatnika et al, 1995). Dari 1.539 jenis burung (17% dari jenis burung di dunia) dengan jumlah jenis endemis sekitar 381 jenis burung yang ada di Indonesia. Burung Mambruk merupakan jenis satwa burung langka yang saat ini telah mengalami tekanan, baik habitat maupun populasinya. Ancaman diperparah dengan meningkatnya kegiatan pembalakan dan perambahan hutan yang merusak tempat hidup (habitat) burung. Shannaz, Jepson dan Rudyanto (1995), mengatakan bahwa hutan merupakan habitat terpenting (85%) untuk burung-burung terancam punah. Sementara Mukhtar (1994), menyatakan bahwa dari beberapa laporan disebutkan kegiatan pembalakan hutan selalu membawa dampak negatif terhadap kehidupan liar, antara lain berupa penurunan populasi dan penyempitan habitat. Menurut Hadi Warsito, ahli burung Balai Penelitian Kehutanan Manokwari mengatakana bahwa “Beragamnya jenis satwa burung yang ada di Papua memiliki ciri dan bentuk kekhasannya tersendiri. Burung Mambruk adalah satu dari sebagian jenis burung yang ada di Papua, burung tersebut telah dijadikan lambang (maskot) di Manokwari.” Ditambahkan Hadi Waristo bahwa Burung Mambruk memiliki morfologi yang cukup cantik dan indah. Sepintas lalu bentuk dan ukuran hampir sama dengan ayam peliharaan, namun sebetulnya ukuran tubuhnya lebih sedikit besar. Burung ini memiliki warna bulu badan yang mencolok, merah manggis dan terdapat jambul (mahkota) seperti kipas serta nampak adanya garis putih (plang) pada bulu bagian ekor. Bentuk dan ornamen mahkota yang dimiliki menunjukan daerah sebaran tertentu. Burung Mambruk muda secara morfologis dan diskripsi memiliki bentuk yang sama pada jenis burung dewasa, hanya pada bagian-bagian tertentu menunjukan warna yang lebih muda. Ada beberapa jenis burung Mambruk yang hidup menyebar merata diseluruh wilayah hutan di Papua
Read more...
 
TWA PENYIMPAN JENIS INDIGENIUS PAPUA


TWA Gunung Meja Kabupaten, TWA Klamono Kabupaten Sorong dan TWA Sorong Kota Sorong merupakan tiga kawasan konservasi prioritas dari 9 kawasan konservasi yang di prioritas oleh Balai Besar Konservasi Sumberdaya  Alam (BBKSDA) Sorong.  Ketiga kawasan konservasi tersebut mengandung nilai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora maupun fauna. Namun sangat disayangkan karena letaknya yang sangat dekat dengan kota dan pemukiman penduduk mengakibatkan ketiga kawasan tersebut sangat rentan terhadap kerusakan. Ancaman yang paling utama adalah pemanfaatan kawasan untuk berbagai tujuan antara lain ; pengambilan kayu bakar, tiang rumah, pagar dan kandang, rotan dan bambu, perladangan berpindah, tanaman hias dan okupasi lahan.

Menurut Krisma Lekitoo, berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti, diketahui bahwa penyebaran jenis flora di bagian kepala burung memiliki keunikan tersendiri yang disebabkan oleh perbedaan batuan dan isolasi geografi dari masing-masing lokasi.  Namun secara garis besar wilayah Sorong dan Raja Ampat memiliki kesamaan dalam tipe vegetasinya (Sesar Sorong) namun agak sedikit berbeda dengan vegetasi yang ada di wilayah Manokwari dan daerah lainnya di kepala burung.

Read more...
 
Sagu, Emas Putih Yang Terlupakan

Manokwari, Sagu (Metroxylon spp.) secara alami tersebar hampir di setiap pulau atau kepulauan di Indonesia dengan luasan terbesar terpusat di Papua, sedangkan sagu semi budidaya terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Tempat tumbuh dan keragaman genetik sagu sangat bervariasi. Berdasarkan hasil eksplorasi dan identifikasi jenis-jenis sagu di desa Kehiran, Jayapura, Irian Jaya ditemukan 20 jenis sagu (nama lokal), dan dari 20 jenis sagu ini 9 sagu merupakan sagu yang berduri sedang 11 lainnya merupakan sagu tidak berduri (Allorerung et al., 1994).   

Berdasarkan lokasi sebaran alaminya setiap pohon sagu menghasilkan rendemen pati sagu yang berbeda. Efisiensi produksi akan lebih tinggi pada lahan-lahan yang tidak tergenang.  Hal ini sesuai pula dengan berat kering pati pada satu contoh yang berasal dari lahan tidak tergenang 13,89 gram, lahan tergenang sementara 9,59 gram dan lahan tergenang tetap 10,93 gram, namun kadar pati pada lahan tergenang tetap lebih rendah (79,17%) dari kedua lahan lainnya (Sitaniapessy, 1996).

           BPK Manokwari telah melakukan penelitian tentang Sagu ini di mualai tahun 2011 s/d sekarang ini. Ir. Batseba  A Suripatty, M.Sc merupakan salah satu peneliti yang berkecimpung di dunia persaguan. Beliau meneliti Sagu mulai dari pembangunan plot uji coba tanaman di Koyani dan Kuantifikasi empulur untuk bioeatnol. Sementara itu peneliti lain yang terlibat adalah Susan T Salosa, S.Hut, MA. Ibu Susan meneliti tentang analisis kelembagaan dan tata niaga Sagu.

           Ada enam jenis Sagu yang ditanam di Plot Ujicoba di Koyani Manokwari. Persentase hidup anakan sagu (Metroxylon sp) paling tinggi berturut-turut adalah jenis Antar adalah 81,87, Hawar adalah 80,02 %, Noiin adalah 78,48  %, Makbon adalah 77,08  %,  Yeriran adalah 75,82 %, dan Huwor adalah 72,54 %.

Sedangkan untuk jenis Sagu yang diteliti , Jenis Noiin pada bagian ujungnya mempunyai produksi Sagu terbanyak, tambah Bu Betty. Sedangkan untuk jenis Anangga mempunyai produksitivtas Sagu tinggi di bagian pangkalnya.

Menurut Susan, tataniaga Sagu ini masih pendek yakni dari penokok/pemilik langsung ke pembeli atau dibeli pemborong yang datang. Pemanfaatan Sagu di Papua sebagian besar hanya untuk dikonsukmsi,belum banyak yang melihat potensi bioetanolnya. Pengembangan sagu secara lokal masih terbatas. Plot ujiconba tanam Metroxyylon spp di Koyani berusaha untuk menjawab keraguan industri hutan tanaman Sagu.

Walaupun sagu merupakan komoditas pangan masyarakat lokal di Papua, yang dalam posisi ini sering dipertentangkan apabila digunakan sebagai bahan baku energi alternatif, namun karena berdasarkan perkiraan potensi produksi sagu tersebut jauh  lebih besar dibanding konsumsi pati sagu sebagai bahan pangan dalam negeri. Produksi sagu yang utama adalah karbohidrat dalam bentuk polisakarida yaitu pati disamping bahan lain yang berbentuk serat dari empulur batang sagu.

 

Active Image

 

Read more...
 
MENGENAL LEBIH DEKAT SI IMUT DARI PAPUA

Manokwari – Tanah Papua atau Bumi Cenderawasih merupakan benteng terakhir bagi kelestarian megabiodiversity flora dan fauna yang ada saat ini. Banyak hal yang khas dan endemik yang dapat kita jumpai di sana. Salah satu hewan endemik yang ada adalah kuskus yang sangat menggemaskan. Untuk menjaga mereka perlu penanganan serius. Salah satu jenis Kuskus adalah Kuskus Bertotol Biasa (Spilocuscus maculatus Desmarest). Kuskus ini  termasuk salah satu jenis kuskus dari family Phalangeridae yang dilindungi (Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999).

Balai Penelitian Kehutanan Manokwari telah memulai melaksanakan penelitian tentang satwa ini, Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh data ekologi dan habitat maupun data lainnya yang diperlukan dalam upaya pelestarian jenis (secara insitu maupun eksitu).  Hal ini penting mengingat pengetahuan tentang populasi, kondisi dan pengaruh faktor habitat terhadap populasi Kuskus Bertotol Biasa (S. maculatus)  di alam dirasakan sangat penting sebagai bahan acuan dalam mengembangkan program perlindungan dan pelestariannya.

"Kenapa satwa-satwa (kus-kus) ini dilindungi? Karena mereka ada di ambang kepunahan dan diburu secara berlebihan, disamping itu tingginya laju kehilangan habitat dan terfragmentasinya habitat satwa karena adanya konversi lahan hutan untuk berbagai tujuan pembangunan, eksploitasi hutan (kayu), dan  konversi hutan untuk pembangunan pertanian sangat mempengaruhi kelestarian satwa mamalia asli” kata Permenas Dimomonmau yang merupakan peneliti BPK Manokwari.

 Active Image

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis vegetasi tingkat pohon pada kawasan hutan mangrove Sorong Selatan yang tersusun atas 4 famili.  Famili yang paling banyak ditemukan adalah Sonneratiaceae yang terdiri dari 105 individu tingkat pohon.  

Read more...
 
Gelar Teknologi

Gelar Teknologi Kehutanan 2013: Peran Penyuluh dalam Penyampaian Hasil Litbang Kepada Pengguna

 

Gelar Teknologi Kehutanan 2013 dilaksanakan terintegrasi dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan. Penyuluh sebagai salah satu ujung tombak pembangunan kehutanan, diharapkan dapat menjadi penyambung informasi iptek kehutanan yang efektif kepada para pengguna di lapangan.

Rangkaian seratus tahu lKelitbangan Kehutanan Indonesia salah satu kegiatannya berupa Gelar teknologi. Hal ini bertujuan untuk menyampaikan hasil penelitian yang sudah layak dikembangkan dan diimplementasikan kepada masyarakat pengguna. Hal berbeda dengan tahun sebelumnya  bahwa kegiatan Gelar teknologi tahun ini diintegrasikan dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan 2013.

“Gelar teknologi  2013 ini diintegrasikan dan disinergikan dengan jambore penyuluhan, sehingga hasil penelitian kehutanan dapat disebarkan melalui sistem komunikasi yang efektif,  melalui ujung tombak komunikasi yakni penyuluh kehutanan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, saat memberikan sambutan pembukaan Gelar Teknologi Kehutanan 2013, di Kaliurang, Yogyakarta, Rabu (15/5). Penyuluh mempunyai peran sebagai ujung tombak penyampaian hasil riset kepada pengguna.

“Kami minta kepada penyuluh agar menyebarluaskan hasil penelitian ini kepada masyarakat, termasuk juga kepada widyaiswara,  sehingga apa yang telah dihasilkan bisa dipergunakan dan bermanfaat,” tegas Iman.

Kegiatan ini diformulasikan dalam kombinasi  presentasi, demonstrasi dan pelatihan praktis hasil litbang kehutanan dalam upaya mendekatkan, mentransformasikan serta meningkatkan efektifitas pemanfaatan oleh pengguna. Kegiatan yang diselenggarakan selama dua hari pada 15 – 16 Mei 2013 di Kaliurang Yogyakarta ini menyajikan sebayak 21 materi iptek kehutanan.  Materi tersebut disampaikan melalui paparan dalam sidang pleno dan komisi, serta dalam bentuk pameran dan demonstrasi iptek. Sedangkan Kegiatan pameran berlangsung sampai dengan tanggal 17 Mei 2013.

Melalui gelar teknologi ini terjadi interaksi langsung antara peneliti dengan pengguna, yakni penyuluh dan widyaiswara. Kegiatan ini menjadi forum diskusi menyampaikan hasil penelitian untuk diterapkan dan menggali kebutuhan iptek kehutanan di lapangan. “Kami mengharapkan umpan balik dari penyuluh dan widyaiswara terkait penerapan iptek dan  kebutuhan di lapangan,” kata Ir. Tri Joko Mulyono, MM, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, pada pembukaan gelar teknologi tersebut.

Gelar teknologi ini berlangsung selama  dua hari dan dihadiri lebih dari 1000 yang terdiri dari  penyululuh kehutanan dari seluruh Indonesia dan undangan lainnya. Pembukaan juga dihadiri oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan beserta jajarannya, Anggota Komisi Penyuluhan Nasional, Kepala Dinas Kehutanan Prov. DIY, Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Prov DIY dan seluruh jajaran Satker Badan Litbang Kehutanan tingkat pusat dan daerah.

 

 

 
2014, BPKM Bangkit

2014, Periode Kebangkitan Kampus Inamberi


”If the bee disappeared of the surface of the globe then man would only have four years of life left. No more bees, no more pollination, no more plants, no more animals, no more man” -Albert Einstein

BPK M (Manokwari, 07/07/2014), Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Papua merupakan salah satu  mega biodiversity country yang masih ada di Indonesia.  Dengan luas hutan yang mencapai 96% dari wilayah daratan atau sekitar 40,5 juta hektar (SK. Menhut No. 891/Kpts-II/1999 Tanggal 14 Agustus 1999) maka sangat tepat jika penelitian dan dan pengembangan iptek berbasis sumber kekayaan alam yang ada di Papua ini terus dan diperdalam secara cermat dan tepat secara optimal untuk membantu mengatasi permasalahan yang kita hadapi saat ini.

Active Image

  

Sebagai lembaga riset, Balai Penelitian Kehutanan Manokwari (BPKM) berupaya maksimal mendukung pengelolaan sumberdaya keanekaragaman hayati menjadi nilai nyata yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Tugas dan fungsi yang diembannya harus mampu menciptakan kedaulatan pangan, energi, obat-obatan adalah arah penting dari pemanfaatan keanekaragaan hayati sesuai dengan semangat green economic saat ini  yakni kesejahteraan masyarakat, sosial dan ekologi. Hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan oleh BPKM harus mampu ditranfer kepada pengguna/user yang ada. Salah satu media diseminasi adalah tulisan ilmiah dalam bentuk Warta. Warta Matoa Vol. I No. 1 Tahun 2014, merupakan salah satu bentuk diseminasi yang akan menjadi media untuk penyampaikan hasil-hasil litbang. 

Ir. Harisetijono, M.Sc selaku Kepala Balai menyampaikan bahwa diseminasi merupakan media yang diharapkan mampu menjembatani peneliti dengan user yang ada. Hasil-hasil litbang yang berupa warta ini akan membangkitkan semangat untuk menulis dan menulis.  Tahun 2014 diharapkan akan menjadi awal bangkitnya kembali Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Ide-ide, hasil penelitian sudah semestinya dituangkan dalam sebuah tulisan. Warta Matoa berusaha menjawab itu. Selamat membaca. Selengkapnya dapat didownload di http://www.forda-mof.org//files/Warta_Matoa.pdf.

 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 16 of 28










ShoutMix chat widget


Who's Online
© 2009 Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
Rancang Desain oleh Tim Kreatif Balai Penelitian Kehutanan Manokwari










tas branded murah
baju batik
grosir baju muslim
terpal tenda lipat tenda kerucut tenda cafe tenda peleton