Selamat Datang di Website Resmi Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
HotSpot
Menu Utama
Home
Visi Misi
Latar Belakang
Wilayah Kerja
Struktur Organisasi
Sumber Daya Manusia
Sarana dan Prasarana
Hubungi Kami
Galleri
Organisasi Kelembagaan
Struktur Organisasi
Penelitian
Program LitBang dan UKP
Penerapan dan Pengakajian
Wana Riset
Publikasi
Expose Penelitian
Advis
Artikel dan Berita
Kumpulan Artikel-Berita
Login Form





Lost Password?
Syndicate
MENGENAL KARBON........
Oleh: Jarot Pandu Panji Asmoro
 
Apa itu Karbon Hutan? Manokwari. Karbon, tentu kita sudah lama mendengar istilah tersebut. Di koran, televisi, intenet dan radio orang banyak membicarakan dan membahas mengenai perubahan iklim yang didalamnya termasuk mengenai karbon, utamanya karbon yang berada di dalam hutan. Jadi apa sebenarnya karbon hutan itu? Karbon adalah unsur alam yang memiliki lambang “C” dengan nilai atom 12. Karbon merupakan salah satu unsur utama pembentuk bahan organik dari makhluk hidup. Hampir setengah dari organisme hidup pada dasarnya merupakan karbon. Karenanya secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di atmosfer. Karbon tersimpan dalam daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik mati ataupun sedimen seperti fosil tumbuhan dan hewan. Sebagian besar jumlah karbon yang berasal dari makhluk hidup bersumber dari hutan. Peristiwa karbon terlepas dari hutan ke atmosfer, disebut emisi, yang terjadi melalui berbagai cara seperti respirasi (pernapasan) makhluk hidup, dekomposisi (pembusukan) bahan organik serta pembakaran biomassa. Selain itu, tumbuhan juga melakukan proses respirasi yang melepaskan CO2.
Read more...
 
Seminar Rencana Operasional Penelitian (ROP) Tahun 2015

Manokwari (22 April 2014). Balai Penelitian Kehutanan Manokwari (BPKM) sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 34/Menhut-II/2011 tanggal 24 April 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan Manokwari, memiliki tugas pokok ”Melaksanakan Penelitian di Bidang  Hutan dan Konservasi Alam, Hutan Tanaman, Hasil Hutan, Sosial Budaya, Ekonomi dan Lingkungan Kehutanan”, pada Tahun Anggaran 2015 akan melaksanakan 5 topik / judul penelitian. Untuk mendukung kemanfaatan hasil-hasilnya perlu dilaksanakan Seminar Rencana Operasional Penelitian  (ROP) yang melibatkan berbagai pihak dan narasumber dibidangnya.  Kepala Balai Penelitian Manokwari, Bagus Novianto menyampaikan bahwa  Seminar ROP ini bertujuan sebagai forum untuk menjaring saran, masukan dan perbaikan rencana penelitian bagi para peneliti yang bersangkutan. Beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada tim pembahas dari Fakultas Kehutanan UNIPA. Hadir dalam acara ini Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, Kepala UPT Kementerian Kehutanan, Kepala KPHP Sorong Selatan, fungsional PEH, Widyaiswara, LSM Perdu, LSM Kamuki, serta peneliti dan teknisi. Secara terpisah Kepala KPHP Sorong, Reynold Kesaulija menyampaikan terima kasih atas undangan dan rencana BPK Manokwari untuk melaksanakan penelitian di wilayah KPHP Sorong Selatan.  Seluruh staf KPHP Sorong Selatan akan mendukung kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan oleh BPK Manokwari.

 

Active ImageActive Image

Read more...
 
MENGENAL MASOI, HHBK ANDALAN PAPUA

      Oleh Relawan Kuswandi dkk

 

Beberapa jenis produk HHBK di Indonesia telah lama diusahakan dan diambil hasilnya oleh masyarakat sekitar hutan untuk mencukupi  kebutuhan mereka. Bahkan sebagian masyarakat menggunakan produk-produk HHBK sebagai alternatif mata pencaharian ketika terjadi kesulitan ekonomi atau bahkan satu-satunya sumber penghasilan. Salah satu jenis HHBK yang menjadi primadona di Papua adalah masoi (Cryptoria sp).  

Walaupun telah diekploitasi dan diekstraksi sejak tahun 1980-an, status jenis ini saat ini belum jelas berapa besar potensi riil di alam dan kondisinya. Secara umum keberadaan populasi pohon ini di Maluku sudah sangat sulit ditemukan dan aktivitas pemanfaatan nilai ekonomis pohon massoi dalam skala besar saat ini hanya berlangsung di Papua. Di lain pihak permintaan dari produk jenis ini semakin tinggi dan terus meningkat. Kebutuhan minyak massoi dunia saat ini 100% diperoleh dari Papua. Bahkan banyak daerah lain yang tidak terdapat jenis ini berlomba-lomba mengembangkannya.

Masoi (Cryptoria sp) menyebar di Indonesia tanaman paling banyak ditemui di dataran rendah di Maluku dan di Papua pada 400-1000 mdpl. Populasi Massoi di Papua dapat dijumpai di wilayah kabupaten Nabire, Kaimana, Fak-fak, Merauke, Jayapura, Sarmi, dan Manokwari (deleygeven, 2013). 

Active Image

 

Read more...
 
CENDERAWASIH…….PESONA YANG MESTI DIJAGA
Sebaran jenis burung Cenderawasih di Papua meliputi 39 jenis (Sukmantoro et al., 2007). Rand dan Gilliard (1968), khususnya di Papua penyebaran Cenderawasih berada di Utara dan Selatan termasuk Yapen, di bagian Papua Barat, Misool, Pegunungan Arfak, daerah Sepik dan Ramu. Cenderawasih dapat dijumpai pada kisaran ketinggian mulai dari permukaan laut hingga 1000 m dpl. Menurut Setio et al. (1998), penyebaran burung Cenderawasih kuning kecil di Papua hapir menyebar merata dari bagian barat dekat kepala burung (Waigeo, Batanta, Salawati, Misool, Kofiau, Gebe dan Gagi), kepulauan di Teluk Cenderawasih (Biak, Numfor, Meosnum dan Yapen) dan kepulauan Aru sampai barat daya Papua. Banyak jenis cenderawasih mempunyai perilaku kawin yang rumit. Perilaku kawin jenis-jenis Paradisaea adalah burung-burung jantan berkumpul untuk bersaing memperlihatkan keelokannya pada burung betina agar dapat kawin. Sementara jenis lain seperti jenis-jenis Cicinurus dan Parotia memiliki tari perkawinan yang beraturan. Burung jantan pada jenis yang dimorfik seksual bersifat poligami. Banyak burung hibrida yang dideskripsikan sebagai jenis baru, dan beberapa spesies diragukan kevalidannya. Jumlah telurnya agak kurang pasti. Pada jenis besar, mungkin hampir selalu satu telur. Jenis kecil dapat menghasilkan sebanyak 2-3 telur (Mackay 1990).
Read more...
 
MENGENAL MAMBRUK, IKON KOTA MANOKWARI
Keanekaragaman jenis burung di Papua Yang merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki sekitar 649 jenis dengan tingkat endemis 52% (Sujatnika et al, 1995). Dari 1.539 jenis burung (17% dari jenis burung di dunia) dengan jumlah jenis endemis sekitar 381 jenis burung yang ada di Indonesia. Burung Mambruk merupakan jenis satwa burung langka yang saat ini telah mengalami tekanan, baik habitat maupun populasinya. Ancaman diperparah dengan meningkatnya kegiatan pembalakan dan perambahan hutan yang merusak tempat hidup (habitat) burung. Shannaz, Jepson dan Rudyanto (1995), mengatakan bahwa hutan merupakan habitat terpenting (85%) untuk burung-burung terancam punah. Sementara Mukhtar (1994), menyatakan bahwa dari beberapa laporan disebutkan kegiatan pembalakan hutan selalu membawa dampak negatif terhadap kehidupan liar, antara lain berupa penurunan populasi dan penyempitan habitat. Menurut Hadi Warsito, ahli burung Balai Penelitian Kehutanan Manokwari mengatakana bahwa “Beragamnya jenis satwa burung yang ada di Papua memiliki ciri dan bentuk kekhasannya tersendiri. Burung Mambruk adalah satu dari sebagian jenis burung yang ada di Papua, burung tersebut telah dijadikan lambang (maskot) di Manokwari.” Ditambahkan Hadi Waristo bahwa Burung Mambruk memiliki morfologi yang cukup cantik dan indah. Sepintas lalu bentuk dan ukuran hampir sama dengan ayam peliharaan, namun sebetulnya ukuran tubuhnya lebih sedikit besar. Burung ini memiliki warna bulu badan yang mencolok, merah manggis dan terdapat jambul (mahkota) seperti kipas serta nampak adanya garis putih (plang) pada bulu bagian ekor. Bentuk dan ornamen mahkota yang dimiliki menunjukan daerah sebaran tertentu. Burung Mambruk muda secara morfologis dan diskripsi memiliki bentuk yang sama pada jenis burung dewasa, hanya pada bagian-bagian tertentu menunjukan warna yang lebih muda. Ada beberapa jenis burung Mambruk yang hidup menyebar merata diseluruh wilayah hutan di Papua
Read more...
 
TWA PENYIMPAN JENIS INDIGENIUS PAPUA


TWA Gunung Meja Kabupaten, TWA Klamono Kabupaten Sorong dan TWA Sorong Kota Sorong merupakan tiga kawasan konservasi prioritas dari 9 kawasan konservasi yang di prioritas oleh Balai Besar Konservasi Sumberdaya  Alam (BBKSDA) Sorong.  Ketiga kawasan konservasi tersebut mengandung nilai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora maupun fauna. Namun sangat disayangkan karena letaknya yang sangat dekat dengan kota dan pemukiman penduduk mengakibatkan ketiga kawasan tersebut sangat rentan terhadap kerusakan. Ancaman yang paling utama adalah pemanfaatan kawasan untuk berbagai tujuan antara lain ; pengambilan kayu bakar, tiang rumah, pagar dan kandang, rotan dan bambu, perladangan berpindah, tanaman hias dan okupasi lahan.

Menurut Krisma Lekitoo, berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti, diketahui bahwa penyebaran jenis flora di bagian kepala burung memiliki keunikan tersendiri yang disebabkan oleh perbedaan batuan dan isolasi geografi dari masing-masing lokasi.  Namun secara garis besar wilayah Sorong dan Raja Ampat memiliki kesamaan dalam tipe vegetasinya (Sesar Sorong) namun agak sedikit berbeda dengan vegetasi yang ada di wilayah Manokwari dan daerah lainnya di kepala burung.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 16 of 31










ShoutMix chat widget


Who's Online
We have 2 guests online
© 2009 Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
Rancang Desain oleh Tim Kreatif Balai Penelitian Kehutanan Manokwari










tas branded murah
baju batik
grosir baju muslim
terpal tenda lipat tenda kerucut tenda cafe tenda peleton