Selamat Datang di Website Resmi Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
HotSpot
Menu Utama
Home
Visi Misi
Latar Belakang
Wilayah Kerja
Struktur Organisasi
Sumber Daya Manusia
Sarana dan Prasarana
Hubungi Kami
Galleri
Organisasi Kelembagaan
Struktur Organisasi
Penelitian
Program LitBang dan UKP
Penerapan dan Pengakajian
Wana Riset
Publikasi
Expose Penelitian
Advis
Artikel dan Berita
Kumpulan Artikel-Berita
Login Form





Lost Password?
Syndicate
TWA Gunung Meja PDF Print E-mail

Mengenal lebih dekat
Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja
”Yang Terabaikan”

Oleh
Hadi Warsito

Taman Wisata Alam adalah salah satu dari kawasan pelestarian alam, dimana fungsi utamanya dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam, perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keragaman jenis tumbuhan, satwa dan keunikan alam. Sebanyak 124 unit lokasi Taman wisata alam (TWA) seluas 1.041.345,21 ha, yang terdiri dari 105 unit lokasi TWA daratan (271.224,51 ha) dan sisanya 19 unit lokasi TWA adalah daratan dengan perairan (770.120,70 ha), (Anonimous 2007).

Taman Wisata Alam Gunung Meja di Manokwari, Papua Barat. adalah salah satu dari beberapa lokasi TWA dataran yang ada Indonesia yang hingga saat ini belum mendapat perhatian yang khusus dalam menangani dan menyikapi kawasan pelestarian tersebut. Bila dilihat, potensi dan manfaatan kawasan ini sangat menjanjikan yang dapat dijadikan aset pemerintah dalam meningkatkan PAD dan sebagai penyimpan maupun pengawetan keanekaragaman jenis baik flora, fauna dan ekosisemnya.

Risalah kawasan

Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja (TWA Gunung Meja) ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 19/Kpts/UM/I/1980, tanggal 12 Januari 1980 dengan luas areal 500 ha. Namun setelah dilakukan rekontruksi penataan batas kawasan pada tahun 1990 oleh Sub Balai Inventarisasi dan Penataan Hutan Manokwari, diperoleh luasan definitif yaitu 460,25 ha. Sebagai kawasan pelestarian TWA Gunung Meja merupakan salah satu hutan dataran rendah di Manokwari yang mempunyai potensi flora dan fauna yang beragam dengan bentuk wilayah yang unik. Karena bentuk wilayah yang unik tersebut terutama struktur geologi dan dengan kepadatan vegetasi hutannya serta letaknya yang dekat dengan kota maka hutan ini disebut juga sebagai hutan Lindung Hidro-orologis (pengatur tata air). Secara geografis hutan TWA gunung Meja terletak antara koordinat 1340 04’ 30” -1340 05’ 32” Bujur Timur dan  00 50’25” - 00’ 55” Lintang Selatan. Formasi geologis di daerah ini mediteran dengan batuan sedimen neogen. Lapisan tanah dangkal dan berbatu di antara batuan kapur keras. Dengan ketinggian tempat mencapai 175 m dpl, kawasan ini memiliki topografi yang bervariasi. Mulai dari datar hingga bergelombang ringan sampai berat, pada beberapa daerah tertentu dijumpai jurang yang terjal dan lereng yang tajam. Klasifikasi Schmidt and Furguson, kawasan ini termasuk dalam  tipe iklim A dengan curah hujan tahunan sebesar 2.684,5 mm per tahun atau sekitar 220,71 mm per bulan. Rata-rata suhu maksimum berkisar pada 30,3 0C dan suhu minimum berisar pada 23,5 0C, dengan kelembaban maksimum 88,6% dan minimum sekitar 84%. 51

 

Potensi Kawasan TWA Gunung Meja

Flora

Tumbuhan Berkayu (Woody plant):

Keragaman flora di kawasan ini cukup beragam mulai dari tumbuhan berkayu hingga tumbuhan tidak berkayu. Pada jenis tumbuhan berkayu terdapat perubahan struktur vegetasi, dimana vegetasi tingkat tiang semakin sedikit. Hal ini disebabkan karena frekuensi pengambilan jenis kayu pada fase pertumbuhan ini (10-20 cm) yang sangat tinggi. Pengambilan kayu yang dilakukan oleh masyarakat pada vegetasi tingkat tiang ini umumnya digunakan untuk pembuatan pagar kebun, kerangka bangunan rumah atau pondok dan kayu bakar. Lasamahu (1996), melaporkan pengambilan hasil hutan dari kawasan ini adalah untuk hasil hutan kayu rata-rata sebesar 71,8100 m3 per tahun, sedangkan hasil hutan non kayu beupa bambu 0,0937 m3 per tahun, rotan 0,0421 m3 per tahun, anggrek 27 tumbuhan per tahun.

Tumbuhan Non Berkayu (Non Woody plant):

Beberapa jenis tumbahan non kayu yang terdapat di kawasan hutan TWA gunung meja berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Balai Penelitian Kehutanan Manokwari diketahuiJenis Bambu : diketahui terdapat 8 jenis di daerah ini, dari ± 32 jenis yang ada di Papua (Widjaya, 1988). Pada jenis anggrek (Dendrobium littorale, D. grastidium, D. bifalce, D. liniale, Grammatophyllum sciptum BL.,dan Pamatocalpa sp., dll). Palem (Caryota rumphiana Mart., Arenga microcarpa Becc.,Orania sp., dll). Dan pada jenis Rotan (Calamus aruensis Becc dan Karthalsia zippeli Burrret)

Fauna

Avifauna termasuk dalam kelompok satwaliar yang dapat menjadi indikator kondisi suatu habitat. Burung yang ditemukan di kawasan TWA Gunung Meja sekitar tahun 90 an, cukup banyak jenisnya, beberapa jenis yang merupakan satwa burung dilindungi terdapat di kawasan tersebut. Harijadi dan Wajo (1996), melaporkan di kawasan Hutan Wisata Gunung Meja dengan menggunakan metode perjumpaan mendapatkan sedikitnya 39 jenis burung  jumlah yang ditemukan pada tahun tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jenis yang ditemukan oleh Warsito dan Oktovina (2005) sebanyak 25 jenis burung. Penurunan jenis burung di kawasan ini diduga sebagai akibat dari semakin banyaknya kawasan terbuka, perburuan liar, perambahan hutan , pembukaan areal kebun dan lain-lain.

 

 

WISATA

Goa

Dari 19 goa alam yang ditemukan, terdapat 4 goa alam yang berukuran besar. di kawasan TWA Gunung Meja yang sebetulnya sangat potensial untuk obyek wisata. Namun hingga saat ini belum adanya penangganan khusus bagi obyek ini. Goa tersebut menurut masyarakat setempat adalah goa alami yang terjadi dan ada sejak dari dahulu. Oleh sebagian masyarakat, dahulu digunakan sebagai tempat untuk mengambil air minum namun saat ini pengambilan air minum di goa tersebut kurang diminati karena pada sebagian masyarakat telah membuat sumur sendiri dan ada juga yang telah menggunakan layanan PDAM. Sementara itu, berapa goa lainnya telah menjadi sarana bermain anak-anak sehingga beberapa goa tersebut tidak terpelihara dengan baik dan menjadi kotor.

Tugu Jepang

Tugu Jepang ini merupakan tugu peringatan pendaratan dan pendudukan tentara Jepang di daerah Manokwari. Namun saat ini Tugu Jepang yang merupakan saksi sejarah telah rusak akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya perhatian dari instansi terkait terhadap situs-situs sejarah yang ada di daerah ini.

Mata Air

Sebagai kawasan hidro-orologis bagi masyarakat di kota Manokwari, kawasan TWA Gunung Meja memiliki fungsi yang penting. Tim penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manokwari menemukan sedikitnya terdapat 23 mata air di kawasan ini yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan dan  menjadi alternative dalam mengambil air oleh mayarakat kota Manokwari di kala musim kemarau (Juni- Agustus).

Hutan Pendidikan

Di bagian Utara, dapat dijumpai beberapa petak tanaman kehutanan yang terpelihara dengan baik, kondisi tersebut sampai saat ini masih dapat terlihat. Hal ini disebabkan, petak tanaman tersebut merupakan hutan pendidikan yang masih dikelola dan dipelihara dengan baik oleh instansi terkait. Selain petak tersebut, pada bagian Timur telah dibuatkan areal plot monitoring sebagai kawasan penelitian/pendidikan  biodiversitas flora di Gunung Meja. Sebagai maksud dari pembuatan plot, untuk mengetahui keanekaragaman jenis, potensi dan menetapkan kawasan ini sebagai Areal Sumberdaya Genetik (ASDG) penyimpan maupun pengawetan keanekaragaman jenis baik flora dan ekosisemnya.

 

Daftar pustaka

Harijadi Bambang Tj dan M. J. Wajo, 1996. IdentifikasiJenis Burung Pada Kawasan TWA Gunung Meja. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan).

Lasamahu, L. 1996. Survei Pengambilan Hasil Hutan dan Jenis Penggunaannya pada Hutan Wisata Gunung Meja. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih Manokwari (tidak diterbitkan).

Potensi Biofisik Kawasan Hutan TWA Gunung Meja  Manokwari. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku. Manokwari 2006.

Warsito dan Oktovina Eryanan .2006. Prosiding. Ekspose Hasil-hasil Penelitian dan Pameran IPTEK, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku. Manokwari, 18-19 April 2006.

 
< Prev










ShoutMix chat widget


Who's Online
© 2009 Balai Penelitian Kehutanan Manokwari
Rancang Desain oleh Tim Kreatif Balai Penelitian Kehutanan Manokwari










tas branded murah
baju batik
grosir baju muslim
terpal tenda lipat tenda kerucut tenda cafe tenda peleton